Aspek Hukum, Etika Dan Sosial Dari Bioteknologi

antibiotics

Negara-negara maju dan negara-negara berkembang memiliki opini/pendapat yang berbeda-beda mengenai isu obat generik. Negara-negara maju memiliki perlindungan yang kuat untuk obat yang sudah dipatenkan karena mereka memiliki banyak usaha/bisnis di bidang kepemilikan obat paten dan hampir 90% dari perusahaan-perusahaan obat berasal dari Amerika, Eropa dan Jepang. Di sisi lain, negara-negara berkembang dengan income perkapita yang rendah, sangat kesulitan untuk membeli obat-obatan yang sudah dipatenkan dan mahal.

Sehingga mereka menolak untuk membeli obat-obatan yang mahal tersebut karena mereka tidak memiliki sumber finansial/daya beli yang tinggi untuk obat-obatan mahal dan kekurangan kapasitas untuk berinovasi membuat obat-obatan yang dapat dipatenkan secara internasional. Oleh karena itu, Negara-negara berkembang adalah pengguna/pembeli bukan pemilik paten dan obat-obatan tersebut. Namun, ada salah satu contoh menarik dari kasus Bayer. Kasus Bayer yang terjadi di India menyangkut aspek legal/hukum, politik dan sosial budaya mengenai ketersediaan obat-obatan dan etika moral dari paten serta hal ini menjadi isu yang terus diperdebatkan di negara-negara berkembang.Walaupun Bayer menuntut litigasi hukum untuk obat-obatan yang sudah dipatenkannya selama beberapa tahun, pabrik Natco di India tetap mulai memproduksi obat generik dari obat patent yang dimiliki Bayer (yaitu Soranefib, obat untuk kanker) dan sudah dijual dengan harga yang lebih murah di India. Melihat kasus hukum peradilan antara Bayer dan Natco, negara-negara berkembang lain sudah seharusnya dapat membuat atau membeli obat-obatan generik yang murah dan mendapat akses untuk obat-obatan tersebut (lihat tabel 1, 2, 3, 4 dan gambar 1 dan 2 untuk lebih detailnya).

Kemudian, puskesmas dapat memiliki akses untuk obat-obatan murah tersebut karena produk-produk kesehatan memiliki harga yang tidak sama dengan produk-produk mahal lainnya (produk mewah seperti mobil, komestik dll), karena kesehatan dan akses terhadap obat-obatan adalah hak setiap orang baik dari negara maju atau pun negara berkembang. Deklarasi Doha yang menolak deklarasi TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights from World Trade Organization) karena memberi perlindungan yang seutuhnya terhadap kesehatan masyarakat dan mendapat akses untuk obat-obatan generik. Deklarasi Doha juga kurang mendukung perlindungan hak asasi intelektual/paten dari obat-obatan yang mahal tersebut.Oleh karena itu, negara-negara berkembang seharusnya membeli atau memproduksi obat-obatan generik atau alternatif yang lebih murah dengan menciptakan kebijakan publik dengan menggunakan lisensi obat-obatan generik, sehingga dapat memberikan akses yang sama untuk obat-obatan demi kesehatan masyarakat luas.

Table 1. Some recent cases of Compulsory Licensing (Khor, 2007)

Country

Type of Compulsory Licence (CL)

Reason

Adequate remuneration

Malaysia CL to local company Government use

Offer 4% to patent holder

Mozambique CL for local manufacture (Pharco) National emergency

Not to exceed 2% of sales

Zambia CL for local manufacture (Pharco) National emergency

Not to exceed 2.5% of total turnover

Indonesia CL to a appointed pharmaceutical factory Government use

Compensation fee of 0.5% of net selling value

Zimbabwe CL to Varichem Emergency
Thailand CL to pharmaceutical organisation Government use

0.5% of the sales price

Ghana CL to import generic ARVs Government use
Brazil CL to manufacture Efavirenz Government use
United States CL to Swiss company to research, manufacture and sell in the US To correct anticompetitive practices
Italy CL to manufacture active ingredients To correct anticompetitive practices

 Table 2. The availability of medicines in 40 developing countries (Cameron et al., 2011)

Types of medicines

Generic name and therapeutic groups

Medicines for acute conditions Amoxicillin 250 or 500 mg capsule/tablet, Antibacterial
Ciprofloxacin 250 or 500 mg capsule/tablet, Antibacterial
Co-trimoxazole 8+40 mg/ml suspension, Antibacterial
Ceftriaxone 1 g/vial injection, Antibacterial
Diclofenac 25 or 50 mg capsule/tablet, Anti-inflammatory/antirheumatic
Aciclovir 200 mg capsule/tablet, Antiviral
Diazepam 5 or 10 mg capsule/tablet, Psycholeptic
Fluconazole 50, 150 or 200 mg capsule/tablet, Antimycotic
Metronidazole 200, 250, 400 or 500 mg capsule/tablet, Antibacterial
Sulfadoxine+pyrimethamine 500+25 mg capsule/tablet, Antiprotozoal (antimalarial)
Ibuprofen 200 or 400 mg capsule/tablet, Anti-inflammatory/antirheumatic
Mebendazole 100 mg capsule/tablet, Anthelmintic
Erythromycin 250 or 500 mg capsule/tablet, Antibacterial
Albendazole 200 or 400 mg capsule/tablet, Anthelmintic
Cephalexin 250 or 500 mg capsule/tablet, Antibacterial
Medicines for chronic conditions Glibenclamide 5 mg capsule/tablet, Drugs used in diabetes
Salbutamol 0.1 mg inhaler, Drugs for obstructive airway disease
Captopril 25 mg capsule/tablet, Agents acting on the renin-angiotensin system
Atenolol 50 or 100 mg capsule/tablet, Beta-blocking agent
Carbamazepine 200 mg capsule/tablet, Antiepileptic
Omeprazole 20 mg capsule/tablet, Drugs for acid-related disorders
Metformin 500 or 850 mg capsule/tablet, Drugs used in diabetes
Ranitidine 150 mg capsule/tablet, Drugs for acid-related disorders
Amitriptyline 25 mg capsule/tablet, Psychoanaleptic (antidepressant)
Nifedipine Retard 20 or 30 mg tablet, Calcium channel blocker
Fluoxetine 20 mg capsule/tablet, Psychoanaleptic (antidepressant)
Hydrochlorothiazide 25 or 50 mg capsule/tablet, Diuretic
Beclometasone 0.25 or 0.5 mg inhaler, Drugs for obstructive airway disease
Phenytoin 100 mg capsule/tablet, Antiepileptic
Losartan 25 or 50 mg capsule/tablet, Agents acting on the renin-angiotensin system

 


Figure 1.Projections of Mortality and Burden of Disease, 2004-2030 (WHO, 2012)


Source: Chaves& Oliveira, 2007.

Table 4. CL episodes by year and country (Beall and Kuhn, 2012)

Year(s)

Nation

Disease

Total products

Outcomes

2001, 2007

Brazil

HIV/AIDS

2

CL/discount

2001

Brazil

HIV/AIDS

1

Discount

2001

Canada

Anthrax

1

Discount

2001-2003

South Africa

HIV/AIDS

8

VL/discount/none

2001

United States

Anthrax

1

Discount

2002

Egypt

Erectile dysfunction

1

CL

2003-2004

Malaysia

HIV/AIDS

3

CL

2003, 2007

Brazil

HIV/AIDS

1

Discount

2003

Zimbabwe

HIV/AIDS

all

CL

2004

Mozambique

HIV/AIDS

3

CL

2004

Zambia

HIV/AIDS

3

CL

2005-2006

Argentina

Pandemic flu

1

VL

2005-2007

Brazil

HIV/AIDS

1

Discount

2005-2009

Brazil

HIV/AIDS

1

Discount

2005

Ghana

HIV/AIDS

all

CL

2005

Indonesia

HIV/AIDS

2

CL

2005

Taiwan

Pandemic flu

1

VL

2006-2007

India

Cancer

1

None

2006, 2010

Thailand

HIV/AIDS

1

CL

2007

Rwanda

HIV/AIDS

1

CL

2007, 2010

Thailand

HIV/AIDS, CVD

2

CL

2007-2008

Thailand

Cancer

1

Discount

2007-2008

Thailand

Cancer

3

CL

2010

Ecuador

HIV/AIDS

1

CL

Note: CL = compulsory licensing, VL = voluntary licensing

 Author :

author Maria Prihtamala Omega, saat ini sebagai penasihat di Universitas Surya, dan sedang menjalani studi untuk gelar Dr. Biotechnology di Universitas tersebut. Pernah juga menjabat Asisten di IPB (Bogor), tutor di UQ (Australia) dan Dosen UPH (Jakarta).

2 Comments

  1. Adsense is actually a really great program for those who maintain blogs, as blogs get updated all the time and the Adsense possibilities are almost limitless.
    This will allow you to answer only those calls that come in on your forwarded toll free number and route other calls to different locations.
    Besides placing advertisers ads on your Blog, you can also make
    money Blogging by placing Google Adsense into your Blog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *