
SEMINAR ELECTRICAL
[huge_it_slider id=”6″]
Kebutuhan akan energy semakin meningkat tiap tahunnya. Hal tersebut terlihat melalui rasio elektrifikasi yang mencapai angka realisasi 84,35%. Indonesia sendiri memiliki beberapa potensi energy baru terbarukan. Menanggapi hal tersebut PT. Tridinamika Jaya Instrument mengadakan seminar dengan judul “PHOTOVOLTAIC & POWER MAINTENANCE TO IMPROVE ENERGY EFFICIENCY” yang diselenggarakan di MM2100 Megapolis Industrial Town, Cikarang, Jawa Barat.

Pada seminar tersebut PT. Tridinamika Jaya Instrumen mengangkat 2 topik yaitu Photovoltaic dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya dengan Ir. Dr. Mohammad Hafidz sebagai pemateri. Dan topic Energy Maintenance dengan Cipto Utomo, ST sebagai pemateri.
Topik pertama mengenai tenaga surya disampaikan oleh Ir. Dr. Mohammad Hafidz. Beliau adalah seorang professor sekaligus akademisi STT PLN.
Rasio elektrifikasi 2014 realisasi indonesia mencapai angka 84.35% dan terus meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan akan energy terbarukan menjadi topic hangat saat ini. Salah satu energy yang sedang dikembangkan adalah energy tenaga surya. Selain energy Hidro, Panas Bumi, Biomassa, Hybrid, samudra dan uranium, energy surya memiliki potensi besar dengan kapasitas terpasang 77,02 MW.

Kenapa Energy Matahari?
Indonesia terletak di katulistiwa memiliki intensitas radiasi yang sangat tinggi, energy matahari mudah didapat dimana – mana secara gratis. Energy matahari juga tidak menimbulkan polusi, noise, ataupun bahan beracun, serta aman. Hal lain yang menjadi kelebihan energy ini adalah pembangunan PLTS tidak memerlukan persyaratan khusus.
Energy melalui tenaga surya memiliki beberapa kendala umum diataranya:
- Investasi PLTS masih sangat mahal, karena sebagian besar komponen PLTS masih di Impor
- Pembangunan PLTS perlu lahan cukup luas, sehingga dalam perencanaan diperlukan koordinasi dengan banyak pihak
- Masih terbatasnya sumber daya manusia dalam menangani operasi PLTS di daerah perdesaan dan pulau terluar
- Belum tersedianya lembaga uji produk dan lembaga sertifikasi profesi yang memadai.
- Umur teknis penyimpan arus (batere) yang relatif pendek yang mejadi permasalahan dalam keandalan pelayanan listrik
- Masalah Lingkungan yang masih kurang perhatian pada pembangunan PLTS
Asumsi perhitungan listrik per panel surya dapat dijelaskan sebagai berikut. Serapan sinar matahari maksimal per hari : 4.5 Jam / hari
CONTOH :
Modul Surya 80 Wp : 80 Watt x 4.5 Jam / hari : 360 Wh ( minimal)
1. KEBUTUHAN DAYA LISTRI RUMAH
- Lampu : 18 W X 12 Jam : 216WH
- Televisi : 75 W x 8 Jam : 600WH
- Kulkas : 90 W X 12 Jam : 1080WH
- Mesin Cuci : 450W X 2 Jam : 900WH
- Pompa air : 125W X 2 Jam : 250WH
- Lain – lain : 154W X 1 Jam : 154WH
Total Kebutuhan : 3200WH
Total : 1.3 x 3200 : 4160WH
2. KEBUTUHAN MODUL SURYA
- N : 4160 / 5 : 832WP , Asumsi Panel 110WP
- N : 832WP / 110WP : 7.56 Dibulatkan 8 Modul Surya
3. KEBUTUHAN BATERAI
- Kapasitas baterai : Total Daya x 3 / 0.85 x 0.6 x 12
- Baterai : 1568.63 AH , Asumsi 200AH
- Total : 1568.63 / 200AH : 8 Baterai
4. KEBUTUHAN SOLAR CHARGER CONTROLLER
- P : Isc Modul Solar x Jmlh Modul
- P : 7.5 X 8 : 60 A
Melalui peraturan menteri energi dan sumber daya mineral republik indonesia nomor 03 tahun 2014
- Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro yang selanjutnya disingkat PLTMH adalah suatu pembangkit listrik skala keeil yang menggunakan tenaga air di bawah kapasitas 1 (satu) MW yang dapat berasal dari saluran irigasi, sungai, atau air terjun alam, dengan eara memanfaatkan tinggi terjunan dan jumlah debit air.
- Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik Terpusat yang selanjutnya disebut PLTS Fotovoltaik Terpusat adalah pembangkit listrik yang mengubah energi matahari menjadi listrik dengan menggunakan modul fotovoltaik dan energi listrik yang dihasilkan selanjutnya disalurkan kepada pemakai melalui jaringan tenaga listrik.
- Pembangkit Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik Tersebar yang selanjutnya disebut PLTS Fotovoltaik Tersebar adalah pembangkit listrik yang mengubah energi matahari menjadi listrik dengan menggunakan modul fotovoltaik dan energi listrik yang dihasilkan selanjutnya disalurkan langsung ke instalasi rumah pemakai
Sebagai penutup seminar, dijelaskan upaya menangani kendala pengembangan energy tata surya. Pertama, mengenai biaya investasi PLTS yang sangat mahal dan sebagian komponen masih impor. Hal tersebut dapat ditanggulangi dengan ditingkatkannya pangsa pasar dalam negeri dan mendorong peningkatan industry PV dan peralatan lain. Kedua, mengenai lahan PLTS yang cukup luas, dapat ditanggulangi dengan system pinjem pakai kawasan hutan dan mendorong pengembangan PLTS Rooftop. Ketiga, masalah keterbatasan sumber daya manusia dalam menangani operasi PLTS, dapat ditanggulangi dengan mengalokasikan terus kegiatan diklat operasi dan pemeliharaan, tidak hanya aparat pemda namun termasuk para operator PLTS. Keempat belum tersedianya lembaga uji produk dan lembaga sertifikasi yang memadai, dapat ditanggulangi dengan didorongnya jasa sertifikasi terkait teknologi dan SDM. Kelima, menyangkut umur teknis arus batre yang relative pendek, dapat ditanggulangi dengan penelitian teknologi peralatan batre dan yang terakhir mengenai masalah lingkungan, harus dikembangkannya jasa sertifikasi di tingkat daerah.
[highlight]Materi 2: Energy Maintenance[/highlight]
Materi kedua seminar ini disampaikan oleh Cipto Utomo, ST. Selaku expert Tridinamika yang juga menjabat sebagai manager of application engineer. Cakupan kerja beliau meliputi Power Team Consultant, Thermography and Power Quality Product, Test and Measurement Product, System Control Analyst, dan Data Aquition Expert.
Cadangan Energy

Melalui diagram di atas cadangan gas bumi di belahan dunia terbagi menjadi 34% bagian timur tengah, 39% eropa bagian timur sedangkan untuk Indonesia terdapat cadangan energy gas bumi sebesar 1,4%. Untuk cadangan energy minyak bumi timur tengah menguasai hingga 65% dari seluruh belahan dunia. Untuk Indonesia hanya 0,5%.
Konsumsi Energy

Diagram disamping menjelaskan bahwa konsumsi energy dunia masih dikuasai 3 sumber energy utama yaitu: 33% Minyak, 24% Gas, dan 30% Batubara. Sedangkan untuk energy lain seperti nuklir, air, angin, dan biogas masih dibawah 10%. Untuk Indonesia sendiri konsumsi energy 30% berasal dari energy petroleum (minyak), 25% batu bara, 15% gas alam, sedangkan energy lain seperti biomass dan air masih dibawah 10%. Dari keseluruhan konsumsi energy di Indonesia, 38% untuk kalangan industry, 16% kalangan bisnis dan 38% Rumah Tangga.
Cadangan Energy Dunia
- Energy Nuklir. Penggunaan nuklir sebagai alternatif sumber
energi telah banyak diimplementasikan di Negara-negara maju yang telah banyak menikmati dari penggunaan nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi nasional mereka. Namun, sayangnya di Indonesia pemanfaatan nuklir tidak dapat dilaksanakan karena terdapat pro dan kontra di masyarakat yang dipegaruhi oleh kejadian kecelakaan reaktor nuklir yang terjadi di dunia contohnya seperti di Fukushima Jepang tahun 2011 lalu. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi mengenai pemanfaatan nuklir yang aman sehingga masyarakat tidak perlu kuatir secara berlebihan dan menerima penggunaan energi nuklir sebagai salah satu energi alternatif bagi Indonesia. - Bahan Bakar Nabati seperti biomassa sangat besar potensinya karena sumber energi biomassa di Indonesia jumlahnya sangat melimpah, Indonesia sebagai Negara agraris dimana sebagai besar masyarakatnya bekerja dibidang pertanian dan perkebunan yang pastinya menghasilkan limbah dari hasil pertanian tersebut seperti : sisa pemotongan kayu, sekam dan bonggol jagung dapat digunakan sebagai pembuatan biomassa
- Energi Panas Bumi (Geothermal) merupakan energi yang berasal dari uap panas yang banyak terdapat di dekat gunung berapi. Energi panas bumi ini sangat cocok bagi Indonesia karena Indonesia memiliki banyak sekali gunung berapi yang dapat dimaksimalkan pemanfaatannya untukgeothermal. Energi panas bumi menjadi salah satu energi terbarukan untuk pembangkit tenaga listrik yang paling bersih, ketersediannya tidak akan habis, ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi karbon dan dibandingkan dengan energi alternatif lain seperti angin dan tenaga surya, sumber energi panas bumi sifatnya lebih stabil/konstan sepanjang tahun dan tidak dipengaruhi musim.
- Contoh energi alternatif lainnya adalah energi angin yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Angin sudah digunakan sejak dulu sebagai penggerak perahu layar. Nah, energi angin ini juga bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk menghasilkan energi listrik.
- Energi matahari merupakan sumber energi panas yang sangat berguna bagi kehidupan makhluk hidup di dunia. Energi matahari dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan tumbuhan untuk hidup. Selain itu, energi matahari juga ternyata bisa dimanfaatkan sebagai salah satu contoh dari energi alternatif. Bahkan energi alternatif dari energi matahari sendiri di beberapa negara maju ini sudah mulai dimanfaatkan dalam bahan bakar mobil. Jika memang kita bisa memanfaatkan energi alternatif maka sudah dapat dipastikan jika matahari bisa dijadikan sebagai sumber energi yang paling utama untuk manusia. Adapun keuntungan dari energi matahari ini adalah jumlah energi yang tidak terbatas.
- Gelombang Air Laut, Potensi Indonesia dalam menghasilkan sumber energi alternatif sangatlah berpeluang besar, salah satunya adalah dengan menciptakan energi alternatif dari gelombang air laut. Seperti kita ketahui, Indonesia termasuk negara yang sebagian besar terdiri dari laut sehingga bisa dijadikan sebagai sumber energi alternatif yang menjanjikan.
UPAYA PENANGGULANGAN

Contoh pemborosan yang sering terlihat adalah hidupnya lampu jalan di siang hari. Daya listrik yang dibutuhkan terbuang sia sia. Selain itu terdapat beberapa pemborosan daya yang sering dilakukan adalah mode standby peralatan elektronik yang mencapai 7 – 25%. Terdapat pemborosan daya sebesar 19,2 Kwh tiap bulannya yang diakibatkan oleh mode standby.
Nice, kalau bisa tolong upload materi pembicara dong, khususnya yang tentang tenaga surya terimakasih
Materi seminar bisa di download disini http://www.tridinamika.com/materi-seminar-tridinamika/materi-seminar-electrical-maret-2016